Hunian Second 2025: Sinyal Emas Menuju Ledakan Transaksi Real Estat 2026 – Dinamika pasar properti tanah air seringkali menjadi teka-teki yang menarik bagi para investor
maupun pencari rumah pertama. Memasuki kuartal terakhir tahun 2025, sebuah anomali data muncul ke permukaan: harga rumah seken atau rumah bekas hanya mengalami kenaikan tipis sebesar 0,7%.
Baca Juga: Properti Australia Menuju Kehancuran Massal di 2026
Angka ini jauh di bawah rata-rata inflasi tahunan dan pertumbuhan harga pada dekade sebelumnya. Namun, bagi mereka yang jeli melihat peluang, angka 0,7%
bukanlah simbol kelesuan, melainkan “ketenangan sebelum badai” yang menandakan bahwa pasar properti sedang bersiap untuk melompat tinggi pada tahun 2026.
Mengapa Kenaikan 0,7% di 2025 Adalah Kesempatan Langka?
Banyak orang awam menganggap bahwa pertumbuhan harga yang sangat rendah menunjukkan penurunan minat masyarakat terhadap aset properti.
Namun, realitas di lapangan berbicara sebaliknya. Stagnansi harga di angka 0,7% sepanjang tahun 2025 dipicu oleh konsolidasi pasar pasca-perubahan kebijakan moneter dan penyesuaian daya beli masyarakat.
Rumah bekas kini menjadi primadona yang tersembunyi. Di saat harga rumah baru (primary) terus melambung akibat kenaikan harga material bangunan dan
biaya logistik, rumah seken menawarkan stabilitas harga yang tidak masuk akal. Kondisi ini menciptakan celah keuntungan atau capital gain yang sangat lebar bagi mereka yang berani melakukan eksekusi pembelian sekarang.
Faktor-Faktor di Balik Landainya Harga Rumah Bekas
Ada beberapa elemen kunci yang menyebabkan harga properti seken tertahan di angka yang sangat rendah sepanjang tahun ini:
Keseimbangan Suplai dan Permintaan: Pasokan rumah bekas di kawasan penyangga kota besar meningkat karena banyak pemilik rumah yang melakukan upgrade ke hunian yang lebih modern, sehingga stok yang melimpah menjaga harga tetap kompetitif.
Suku Bunga yang Terjaga: Kebijakan perbankan yang mulai melunak di akhir 2025 memberikan ruang bagi calon pembeli untuk bernegosiasi, namun penjual cenderung menahan harga agar properti mereka cepat terjual di tengah persaingan ketat.
Psikologi Pasar: Banyak calon pembeli yang masih bersikap wait and see, menunggu momentum yang tepat. Hal inilah yang menyebabkan kurva harga bergerak mendatar.
Proyeksi Properti 2026: Mengapa Pasar Akan Melompat?
Jika 2025 adalah tahun persiapan, maka 2026 diprediksi akan menjadi tahun akselerasi.
Ada beberapa indikator kuat yang mendukung prediksi bahwa pasar properti akan mengalami lonjakan signifikan, baik dari sisi volume transaksi maupun nilai aset.
1. Pemulihan Ekonomi Makro yang Matang
Pada tahun 2026, stabilitas ekonomi diprediksi akan mencapai titik puncaknya. Dengan daya beli masyarakat yang menguat, permintaan terhadap hunian layak huni akan meledak.
Ketika permintaan melampaui pasokan yang tersedia, hukum ekonomi akan berlaku: harga akan meroket. Kenaikan 0,7% di tahun sebelumnya akan segera terkoreksi oleh lonjakan yang diprediksi bisa mencapai dua digit.
2. Pembangunan Infrastruktur yang Mulai Beroperasi
Banyak proyek transportasi massal, jalan tol, dan pusat bisnis baru yang dijadwalkan rampung pada akhir 2025 atau awal 2026. Properti seken yang berada di sekitar
akses infrastruktur baru ini akan mendapatkan durian runtuh. Nilai tanah akan naik drastis, dan rumah seken yang dibeli dengan harga “diskon” di 2025 akan memiliki nilai jual kembali yang sangat tinggi.
Strategi Investasi Properti Seken Menjelang 2026
Bagi Anda yang ingin memaksimalkan profit atau sekadar mendapatkan hunian impian dengan
harga terbaik, sekarang adalah waktu yang tepat untuk melakukan pergerakan. Berikut adalah langkah strategis yang bisa diambil:
Berburu di Lokasi Strategis yang Mature
Rumah seken di kawasan yang sudah “jadi” atau mapan memiliki risiko yang jauh lebih rendah. Kawasan ini biasanya sudah memiliki fasilitas umum yang lengkap seperti sekolah, rumah sakit, dan pusat perbelanjaan.
Membeli saat harga stagnan di 0,7% memastikan Anda masuk di harga dasar sebelum kawasan tersebut mengalami revitalisasi nilai di tahun depan.
Melakukan Renovasi untuk Meningkatkan Nilai Jual
Salah satu keunggulan membeli rumah bekas adalah fleksibilitas untuk meningkatkan estetika dan fungsi bangunan. Dengan sedikit sentuhan modernisasi,
rumah seken yang dibeli dengan harga murah bisa dijual kembali dengan margin keuntungan yang sangat memuaskan saat pasar memanas di 2026.
“Investasi properti bukan tentang menunggu untuk membeli, tetapi membeli dan kemudian menunggu.” Ungkapan ini sangat relevan dengan kondisi pasar saat ini.
Perbandingan Rumah Baru vs Rumah Seken di Era 2025-2026
Untuk memberikan gambaran lebih jelas, mari kita lihat tabel perbandingan berikut yang menyoroti mengapa rumah seken menjadi pilihan yang lebih logis di masa transisi ini:
| Aspek | Rumah Baru (Primary) | Rumah Seken (Secondary) |
| Harga Perolehan | Cenderung Tinggi & Fix | Sangat Kompetitif & Nego |
| Kenaikan Harga 2025 | Diatas 3% – 5% | Hanya 0,7% |
| Waktu Huni | Menunggu Serah Terima | Bisa Langsung Ditempati |
| Lingkungan | Masih Berkembang | Sudah Terbentuk (Mature) |
| Potensi Profit 2026 | Moderat | Tinggi (Low Entry, High Exit) |
Sektor Perbankan dan Dukungan Pembiayaan
Memasuki tahun 2026, industri perbankan diperkirakan akan semakin agresif dalam menyalurkan Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Program-program suku bunga rendah dan tenor panjang akan menjadi pemicu utama masyarakat
untuk segera memiliki hunian. Dengan memanfaatkan harga rumah seken yang masih “tertidur” di angka kenaikan 0,7%, Anda bisa mendapatkan cicilan yang jauh lebih ringan dibandingkan menunggu hingga tahun depan saat harga sudah melompat tinggi.
Bagi para milenial dan Gen Z, momen ini adalah kesempatan emas. Di tengah narasi sulitnya generasi muda memiliki rumah, data kenaikan yang rendah di 2025
adalah pintu masuk yang tidak boleh dilewatkan. Memulai investasi properti sejak dini akan memberikan stabilitas finansial jangka panjang yang tak ternilai harganya.
Analisis Psikologi Penjual di Tahun 2025
Memahami psikologi penjual sangat penting dalam negosiasi rumah seken. Di tahun 2025, banyak penjual yang mulai merasa tidak sabar karena properti mereka
tidak kunjung naik harganya secara signifikan. Hal ini menciptakan posisi tawar yang sangat kuat bagi pembeli. Anda dapat menegosiasikan harga yang bahkan mungkin di bawah harga pasar (BUP) karena penjual ingin segera melepaskan asetnya untuk keperluan lain.
Namun, keadaan ini tidak akan bertahan lama. Begitu memasuki Januari 2026, optimisme pasar akan kembali. Para penjual akan mulai menyadari bahwa permintaan
meningkat dan mereka akan serentak menaikkan harga penawaran. Jadi, selisih waktu beberapa bulan di akhir 2025 ini adalah masa paling krusial bagi keuangan Anda.
Kesimpulan: Momentum Adalah Kunci
Kenaikan harga rumah seken yang hanya 0,7% di tahun 2025 adalah sebuah anomali positif bagi sisi pembeli. Ini adalah sinyal bahwa pasar sedang mengumpulkan kekuatan untuk melakukan lompatan besar di tahun 2026.
Dengan fundamental ekonomi yang kuat, pembangunan infrastruktur yang masif, dan sentimen pasar yang mulai membaik, menunda pembelian properti saat ini bisa menjadi kerugian besar di masa depan.
Jangan biarkan kesempatan ini lewat begitu saja. Lakukan riset, kunjungi lokasi, dan eksekusi transaksi
Anda sebelum tahun berganti. Ingatlah bahwa dalam dunia properti, mereka yang bergerak saat pasar sedang tenang adalah mereka yang akan tersenyum paling lebar saat pasar kembali bergairah.
Maksimalkan Potensi Properti Anda Sekarang
Jika Anda mencari hunian dengan nilai investasi tinggi, pastikan untuk memantau perkembangan di kawasan-kawasan penyangga yang memiliki konektivitas tinggi.
Rumah seken dengan karakter bangunan yang kuat dan lokasi yang strategis akan selalu menjadi aset yang paling diburu. Persiapkan diri Anda untuk menyambut tahun 2026 sebagai tahun kejayaan properti Anda.
